Kini hidup wanita si
kupu-kupu malam.. bekerja bertaruh seluruh jiwa raga.. bibir senyum kata halus
merayu memanja.. kepada setiap mereka yang datang.. Kutipan lirik lagu berjudul
“Kupu-Kupu Malam” yang dipopulerkan oleh salah satu terkenal di Indonesia, band ‘Peterpan’ ini membuat siapa pun
yang mendengarnya seakan-akan terbawa oleh kisah yang pilu. Kutipan tersebut
mengkisahkan pergumulan kehidupan “wanita malam” atau yang akrab dipanggil pekerja seks
komersial (PSK). Sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Surabaya jika mendengar
tempat prostitusi di Surabaya yang biasa disebut “gang dolly”. Diketahui bahwa
dolly merupakan pusat pelacuran terbesar se-Asia Tenggara, tepatnya berada di
Kelurahan Putat Jaya, Kecamatan Sawahan, Surabaya, Jawa Timur. Malahan
masyarakat dari luar kota Surabaya berpikir bahwa dolly tersebut merupakan
tempat “wisata malam,” ini yang membuat mereka penasaran akan tempat tersebut.
Lagu yang berdendang
keras, lampu warna-warni bergemerlapan, dan suara riuh yang bersaut-sautan dari
para calo yang menawarkan “barang”, menjadi penarik perhatian bagi “hidung
belang” untuk berkunjung pada malam hari. Selain itu, para lelaki tersebut siap
untuk bertransaksi dengan PSK yang sudah tersedia dan diwakili dengan nomor
sebagai kode setiap PSK. Suasana dan kondisi sangat berbanding terbalik ketika
siang harinya, lagu untuk menarik perhatian tidak begitu terdengar, tidak ada
pula lampu warna-warni, dan suara riuh para calo lenyap. Kegiatan di dolly tampak
terlihat ketika masyarakat pada umumnya berisitirahat setelah seharian
berkatifitas. Ya, tempat prostitusi tersebut ramai-ramainya sekitar pukul 21.00
WIB. mereka tertidur ketika matahari berusaha menyingkirkan gelapnya langit
dengan menyinarkancahayanya.
Wisma yang berjajaran
di gang dolly seakan-akan menjadi etalase yang didalamnya memajangkan “maneqin” hidup berparas cantik dan
menunggu panggilan dari pemilik wisma atau yang memiliki panggilan khusus,
yaitu mami. Selain menjadi pemilik wisma, mami juga berperan untuk
mengkoordinasi PSK yang bekerja sebagai anak buahnya. Tidak ada kata istirahat
untuk para PSK ketika waktunya bekerja, hanya menurut yang bisa mereka lakukan.
Transaksi yang mengalir sangat mempunyai pengaruh yang besar bagi perputaran
perekonomian di sebuah wisma.Bayangkan saja jika satu gang di kawasan Putat
Jaya yang gang lebar saja dipenuhi dengan jajaran wisma belum lagi dengan wisma
yang di gang-gang kecil, berapa banyak hasil yang didapat dan berputar di
kawasan tersebut. Pengaruhnya cukup luas, apalagi adanya pedagang yang
mengambil kesempatan untuk mencari nafkah dengan berjualan makanan, tukang
becak, pedagang, tukang parkir, bahkan ada yang merelakan rumahnya dijadikan
untuk lahan parkir pengunjung dolly.
Keadaan dolly jika
dilihat oleh kaca mata masyarakat umum terlihat kelam dan taka da masa depan di
tempat tersebut, tidak bagi anak-anak yang bersekolah di Taman Pendidikan Islam
Bahrululum yang masih berada di kawasan Putat Jaya. Lebih ironisnya lagi,
bersebelahan dengan wisma, dimana otomatis anak-anak yang bersekolah mau tidak
mau berkecimpung malahan harus terbiasa dengan segala keadaan disana. Keadaan
yang sesungguhnya tidak baik bagi perkembangan moral dan psikologi anak.
Ibu-ibu yang berstatus sebagai pekerja di dolly ada yang menyekolahkan anaknya
di Taman Pendidikan Islam Bahrululum. Sekolah tersebut memiliki empat jenjang,
mulai dari Taman Kanak-Kanak (TK), Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama
(SMP), hingga Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Niat dari ibu-ibu tersebut ada
yang hanya sebagai formalitas belaka, namun ada juga yang bertujuan dan punya
mimpi agar anaknya memiliki nasib atau masa depan yang lebih baik dari ibunya.
Lain dari itu, ketika anak-anak mereka sukses dengan pekerjaan yang lebih baik,
sang ibu berharap dapat keluar dari dolly dan tidak bekerja lagi sebagai PSK.
![]() |
| (24/6) Anis salah satu Staf Tata Usaha sekaligus juga warga sekitar di Dolly |
Ditemui, Senin (24/6)
kemarin, Anis selaku staf tata usaha disekolah tersebut saat menjaga meja
pendaftaran siswa baru di sekolah tersebut, bercerita mengenai seputar kisahnya
bersekolah disekolah tersebut. “Pengalaman pertemanan saya ketika sekolah
disini sih, saya pernah punya teman yang ternyata baru-baru ini saya ketahui
setelah kuliah kalau ibu dari teman saya itu germo, mbak,” ungkap Anis (21)
yang merupakan alumni Taman Pendidikan Islam Bahrululum. “Saya juga sering
melihat ibu-ibu yang kerja ditempat itu nganterin
anaknya cuma pakai tanktop dan celana
pendek, sedangkan anaknya rapi dengan pakaian tertutup dan pakai jilbab,”
jelasnya. Sangat terlihat kontras ketika anak-anak tersebut terjebak dengan
kondisi yang tak wajar, dan ketidakwajaran ini adalah ulah hasil dari orang tua
anak-anak tersebut. Namun hal ini sangat wajar jika dilihat dari kacamata
anak-anak tersebut. Wajar karena sudah terbiasa, mereka lahir dan besar dengan
kondisi seperti adanya.
Tidak hanya bersekolah
sampai SMK saja, tapi teman Anis yang tak bisa disebutkan namanya dan sebut
saja namanya Ina, memiliki impian yang tinggi untuk mengeluarkan ibunya dari
dolly. Oleh karena itu, Ina melanjutkan hingga perguruan tinggi. Saat ini Ina
duduk di bangku kuliah, Universitas Adi Buana, Ngagel dan mengambil jurusan
yang sama dengan Anis, yaitu matematika. Sebelum adanya aksi penutupan dolly,
Ina berhasil mengeluarkan ibunya dari tempat prostitusi tersebut. Sepertinya,
peribahasa yang menyatakan buah apel jatuh tidak jauh dari pohonnya tidak
berlaku bagi Ina, dikarenakan nasib Ina sangat kontras dengan kehidupan ibunya.
Di Taman Pendidikan Islam Bahrululum, bukan hanya anak warga sekitar yang
bersekolah, tapi juga anak dari PSK. Tidak nampak perbedaan atau perhatian
khusus terhadap anak-anak dari PSK. Diceritakan oleh Anis bahwa jika sekolah
membedakan mereka, maka sekolah memberikan ontoh yang buruk dengan
diciptakannya batasan pada pertemanan keduanya. Jadi, jika mau memberi perhatian
yang semuanya disamakan.
“Seharusnya pendidik
menjadi model yang baik bagi anak-anak tersebut dan pelan-pelan mengubah mindset mereka yang sudah terbiasa dengan kondisi yang
buruk disana,” tutur Eli Prasetyo, selaku ketua Pusat Layanan Psikolog milik
Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya. “Mengubah mereka menjadi lebih baik
bisa seperti character building atau
kegiatan yang membangun lainnya. Pokoknya yang membuat mereka memiliki banyak
kegiatan positif,” jelasnya.
Kegiatan dalam
kesehariannya, anak-anak itu dapat melihat, menyaring, dan melakukan apa yang
ada disekitar mereka. Oleh karena itu, perlunya bimbingan dan perhatian ekstra
pada anak-anak yang tinggal berada dikawasan seperti dolly. Mereka belum bisa membedakan mana yang benar
dan mana yang buruk atau bahkan mana yang harus mereka lakukan dan mana yang
harus tidak mereka lakukan. Semoga banyak anak-anak dari PSK yang memiliki niat
dan imipian yang luar biasa seperti yang dilakukan Ina, dan kita sebagai
masyarakat harusnya mendukung penuh impian mereka. Bukan malah memandang
sebelah mata seperti kita melihat kehidupan ibu mereka, tapi melihat sisi
positif dimana anak-anak tersebut masih belum terlambat untuk mengubah masa
depan mereka lebih cerah. Anak-anak tersebut adalah generasi yang tidak hanya
dapat mengubah nasib diri sendiri tapi juga dapat mengubah nasib ibu mereka
menjadi lebih baik. Mereka bagai malaikat tanpa sayap yang dapat menyinarkan
cahayanya ditengah remangnya wisma-wisma dolly. (dam/js)
Dibuat oleh :
Damara Clara 1423012025
Damara Clara 1423012025
Jessica Megawati S. 1423012026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar