Rabu, 25 Juni 2014

Secercah Harapan di Dolly


Kini hidup wanita si kupu-kupu malam.. bekerja bertaruh seluruh jiwa raga.. bibir senyum kata halus merayu memanja.. kepada setiap mereka yang datang.. Kutipan lirik lagu berjudul “Kupu-Kupu Malam” yang dipopulerkan oleh salah satu terkenal di Indonesia, band ‘Peterpan’ ini membuat siapa pun yang mendengarnya seakan-akan terbawa oleh kisah yang pilu. Kutipan tersebut mengkisahkan pergumulan kehidupan “wanita malam”  atau yang akrab dipanggil pekerja seks komersial (PSK). Sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Surabaya jika mendengar tempat prostitusi di Surabaya yang biasa disebut “gang dolly”. Diketahui bahwa dolly merupakan pusat pelacuran terbesar se-Asia Tenggara, tepatnya berada di Kelurahan Putat Jaya, Kecamatan Sawahan, Surabaya, Jawa Timur. Malahan masyarakat dari luar kota Surabaya berpikir bahwa dolly tersebut merupakan tempat “wisata malam,” ini yang membuat mereka penasaran akan tempat tersebut.
Lagu yang berdendang keras, lampu warna-warni bergemerlapan, dan suara riuh yang bersaut-sautan dari para calo yang menawarkan “barang”, menjadi penarik perhatian bagi “hidung belang” untuk berkunjung pada malam hari. Selain itu, para lelaki tersebut siap untuk bertransaksi dengan PSK yang sudah tersedia dan diwakili dengan nomor sebagai kode setiap PSK. Suasana dan kondisi sangat berbanding terbalik ketika siang harinya, lagu untuk menarik perhatian tidak begitu terdengar, tidak ada pula lampu warna-warni, dan suara riuh para calo lenyap. Kegiatan di dolly tampak terlihat ketika masyarakat pada umumnya berisitirahat setelah seharian berkatifitas. Ya, tempat prostitusi tersebut ramai-ramainya sekitar pukul 21.00 WIB. mereka tertidur ketika matahari berusaha menyingkirkan gelapnya langit dengan menyinarkancahayanya.
Wisma yang berjajaran di gang dolly seakan-akan menjadi etalase yang didalamnya memajangkan “maneqin” hidup berparas cantik dan menunggu panggilan dari pemilik wisma atau yang memiliki panggilan khusus, yaitu mami. Selain menjadi pemilik wisma, mami juga berperan untuk mengkoordinasi PSK yang bekerja sebagai anak buahnya. Tidak ada kata istirahat untuk para PSK ketika waktunya bekerja, hanya menurut yang bisa mereka lakukan. Transaksi yang mengalir sangat mempunyai pengaruh yang besar bagi perputaran perekonomian di sebuah wisma.Bayangkan saja jika satu gang di kawasan Putat Jaya yang gang lebar saja dipenuhi dengan jajaran wisma belum lagi dengan wisma yang di gang-gang kecil, berapa banyak hasil yang didapat dan berputar di kawasan tersebut. Pengaruhnya cukup luas, apalagi adanya pedagang yang mengambil kesempatan untuk mencari nafkah dengan berjualan makanan, tukang becak, pedagang, tukang parkir, bahkan ada yang merelakan rumahnya dijadikan untuk lahan parkir pengunjung dolly.
Keadaan dolly jika dilihat oleh kaca mata masyarakat umum terlihat kelam dan taka da masa depan di tempat tersebut, tidak bagi anak-anak yang bersekolah di Taman Pendidikan Islam Bahrululum yang masih berada di kawasan Putat Jaya. Lebih ironisnya lagi, bersebelahan dengan wisma, dimana otomatis anak-anak yang bersekolah mau tidak mau berkecimpung malahan harus terbiasa dengan segala keadaan disana. Keadaan yang sesungguhnya tidak baik bagi perkembangan moral dan psikologi anak. Ibu-ibu yang berstatus sebagai pekerja di dolly ada yang menyekolahkan anaknya di Taman Pendidikan Islam Bahrululum. Sekolah tersebut memiliki empat jenjang, mulai dari Taman Kanak-Kanak (TK), Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), hingga Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Niat dari ibu-ibu tersebut ada yang hanya sebagai formalitas belaka, namun ada juga yang bertujuan dan punya mimpi agar anaknya memiliki nasib atau masa depan yang lebih baik dari ibunya. Lain dari itu, ketika anak-anak mereka sukses dengan pekerjaan yang lebih baik, sang ibu berharap dapat keluar dari dolly dan tidak bekerja lagi sebagai PSK.
(24/6) Anis salah satu Staf Tata Usaha sekaligus juga warga sekitar di Dolly

Ditemui, Senin (24/6) kemarin, Anis selaku staf tata usaha disekolah tersebut saat menjaga meja pendaftaran siswa baru di sekolah tersebut, bercerita mengenai seputar kisahnya bersekolah disekolah tersebut. “Pengalaman pertemanan saya ketika sekolah disini sih, saya pernah punya teman yang ternyata baru-baru ini saya ketahui setelah kuliah kalau ibu dari teman saya itu germo, mbak,” ungkap Anis (21) yang merupakan alumni Taman Pendidikan Islam Bahrululum. “Saya juga sering melihat ibu-ibu yang kerja ditempat itu nganterin anaknya cuma pakai tanktop dan celana pendek, sedangkan anaknya rapi dengan pakaian tertutup dan pakai jilbab,” jelasnya. Sangat terlihat kontras ketika anak-anak tersebut terjebak dengan kondisi yang tak wajar, dan ketidakwajaran ini adalah ulah hasil dari orang tua anak-anak tersebut. Namun hal ini sangat wajar jika dilihat dari kacamata anak-anak tersebut. Wajar karena sudah terbiasa, mereka lahir dan besar dengan kondisi seperti adanya.
Tidak hanya bersekolah sampai SMK saja, tapi teman Anis yang tak bisa disebutkan namanya dan sebut saja namanya Ina, memiliki impian yang tinggi untuk mengeluarkan ibunya dari dolly. Oleh karena itu, Ina melanjutkan hingga perguruan tinggi. Saat ini Ina duduk di bangku kuliah, Universitas Adi Buana, Ngagel dan mengambil jurusan yang sama dengan Anis, yaitu matematika. Sebelum adanya aksi penutupan dolly, Ina berhasil mengeluarkan ibunya dari tempat prostitusi tersebut. Sepertinya, peribahasa yang menyatakan buah apel jatuh tidak jauh dari pohonnya tidak berlaku bagi Ina, dikarenakan nasib Ina sangat kontras dengan kehidupan ibunya. Di Taman Pendidikan Islam Bahrululum, bukan hanya anak warga sekitar yang bersekolah, tapi juga anak dari PSK. Tidak nampak perbedaan atau perhatian khusus terhadap anak-anak dari PSK. Diceritakan oleh Anis bahwa jika sekolah membedakan mereka, maka sekolah memberikan ontoh yang buruk dengan diciptakannya batasan pada pertemanan keduanya. Jadi, jika mau memberi perhatian yang semuanya disamakan.
“Seharusnya pendidik menjadi model yang baik bagi anak-anak tersebut dan pelan-pelan mengubah mindset  mereka yang sudah terbiasa dengan kondisi yang buruk disana,” tutur Eli Prasetyo, selaku ketua Pusat Layanan Psikolog milik Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya. “Mengubah mereka menjadi lebih baik bisa seperti character building atau kegiatan yang membangun lainnya. Pokoknya yang membuat mereka memiliki banyak kegiatan positif,” jelasnya.
Kegiatan dalam kesehariannya, anak-anak itu dapat melihat, menyaring, dan melakukan apa yang ada disekitar mereka. Oleh karena itu, perlunya bimbingan dan perhatian ekstra pada anak-anak yang tinggal berada dikawasan seperti dolly.  Mereka belum bisa membedakan mana yang benar dan mana yang buruk atau bahkan mana yang harus mereka lakukan dan mana yang harus tidak mereka lakukan. Semoga banyak anak-anak dari PSK yang memiliki niat dan imipian yang luar biasa seperti yang dilakukan Ina, dan kita sebagai masyarakat harusnya mendukung penuh impian mereka. Bukan malah memandang sebelah mata seperti kita melihat kehidupan ibu mereka, tapi melihat sisi positif dimana anak-anak tersebut masih belum terlambat untuk mengubah masa depan mereka lebih cerah. Anak-anak tersebut adalah generasi yang tidak hanya dapat mengubah nasib diri sendiri tapi juga dapat mengubah nasib ibu mereka menjadi lebih baik. Mereka bagai malaikat tanpa sayap yang dapat menyinarkan cahayanya ditengah remangnya wisma-wisma dolly. (dam/js) 

Dibuat oleh :
Damara Clara 1423012025
Jessica Megawati S. 1423012026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar